Promo Air Asia di Juni 2014, membuatku memiliki ticked PP : Bpp - KL; KL- BKK; BKK - KL ; KL -Bpp
dengan total harga 1,3 juta. jadwal terbang 23 Januari 2015 ....Gilaaa...
sekarang waktunya menyusun rencana.... tentu saja ala backpacker, jika ada dana lebih bisa nginap di bintang 5 yang lagi diskon gede hehehe...
-----------------------
Mulailah search blog ttg perjalanan ke bangkok dan pattaya, ; yang pertama yg harus di cari adalah
1. mau nginap di mana...? googling agoda, expedia, booking, trip advisor, traveloka, rooms, cari hotel berkualitas yang lagi diskon gede.
akhirnya dapet : transit hotel di deket bandara KL : Youniq hotel
Hotel budget di Bangkok : Natra Sukhumvit ; hotel bintang 4 yg lagi promo gede : Mandarin Orietal Bangkok, (hah... katanya backpacker.. kok searchnya hotel bintang 4 n' 5?)
Hotel bintang 3 di kawasan bukit bintang KL : Metro Hotel base on to adventuring in KL
2. Tempat apa yang mau dikunjungi?
mulailah mengintip itenary perjalanan ke 2 negara itu... dari berbagai tulisan di blog
Karena kami ada waktu 4 hari di bangkok dan 3 hari di KL, maka menilik agenda para pelancong, cukup banyak yang bisa di kunjungi.
di Bangkok akan prioritas : Grand Palace dan 2-3 kuil bagus, Pattaya; museum madam Tussaud, pasar chatuchak...
di KL akan coba visit : Genting land, KLCC ( Petronas Tower), sight seeing city...
blognya Travel awan sangat membantu untuk urusan ini.
3. naik apa untuk wira wiri dari satu tempat ke tempat lain ?
Lagi lagi blog travel awan sangat membantu...
so... kami akan coba naik semua angkutan yang ada. dari bus, MRT, BST, Tuk Tuk, Kapal Chao... monorail...
4. Oleh oleh apa yang pantas di beli?
Agar tidak terjebak keborosan luar biasa, maka sebaiknya sejak awal sudah disetting untuk beli apa saja. dan berupaya sekuat tenaga untuk disiplin dengan list yang sdh di buat.
so... di Bangkok rencana beli souvenir buat temen 2, dan di KL mau beli coklat ( niat 2 tahun yang lalu yang ngga kesampaian... hehehe...) itupun dengan budget yang sudah di plot.
semoga rencana ini berjalan lancar....
(bagian dari rencana 1 country every year)
Selasa, 04 November 2014
a moment miss you... my son
Kemarin seorang teman bertanya " Mbak ngga kangen sama anaknya yang kuliah di luar kota ya?"
Bulan lalu teman yang lain berkata " kok ngga kasian sih, masa anaknya dibiarkan kuliah jauh jauh di luar kota ?
---------------------
Huahhhh... pertanyaan pertama jelas langsung di jawab " ya kangen lah " masa sama anak sendiri ngga kangen?? Aku pernah send email ke anakku ttg kangen ini : Ternyata kangen juga sama Mas Tico, kangen nyuruh nyuruh... nyuruh mandi, nyuruh segera sholat, nyuruh makan... hahahahaha...."
cuman satu hal yang ngga pernah keluar dari my lip ( seingatku nih) " nyuruh belajar !!!"
sebenarnya dengan tehnologi sekarang, bisa tetap nyuruh nyuruh sih... tiap jam sholat , telp... , tapi masa sih segitunya? biarlah dia belajar mengatur hidup dan dirinya sendiri.
------------------------
Minggu lalu sms ke seorang teman yang putranya kuliah di kota yang sama, Isinya " Gimana kabar anaknya bu? sudah pernah nengok ke sana sejak awal kuliah ?
si temen menjawab "wah sudah sering mbak... beberapa kali sudah nengok " hah? padahal kuliahnya baru jalan 3 bulan... artinya tiap bulan sdh kesana ... weleh weleh... sementara daku cuman baru bisa telp , email dan sms aja... hiks hiks...
-------------------------------------
Pertanyaan kedua : Lah lebih kasian lagi kalo dia tetap di bawah ketiak orang tuanya... kapan besarnya, kapan mandirinya? kapan belajarnya?
Justru seorang anak harus belajar lepas dari zona nyaman nya di rumah dan mulai belajar hidup di dalam masyarakat jika kita menginginkan anak kita sukses dalam menata hidupnya. Mungkin dia akan menemukan banyak hambatan dalam pejalanannya, tapi dia juga akan banyak belajar untuk menemukan jalan keluar, mungkin dia akan pernah jatuh, untuk kemudian berjuang dan bangkit kembali, mungkin dia akan tertusuk duri dan belajar mencabut duri tersebut...
Hidup adalah perjuangan dan petualangan untuk mencari ridho Allah... itu lah yang harus selalu terpatri dalam benak seorang anak.
Hidup itu tidak mudah, itulah sebabnya Allah memberi kita pikiran, akal, fisik, mental dan tentunya iman untuk mengatasi kesulitan kesulitan yang akan kita temui.
------------------
Seorang ibu, kenalanku berkata " saya ngga mau anak tunggal saya kuliah jauh jauh, biar di sini aja, jadi saya masih bisa mengawasi, dan ngurusin "
saya speechless deh.... semoga anaknya tidak tertekan dengan doktrin ibunya.
Semoga Allah memberi kekuatan, kemampuan , kesabaran dan keikhlasan dalam mengatasi hal hal yang tejadi dalam kehidupan kita....
amin
Bulan lalu teman yang lain berkata " kok ngga kasian sih, masa anaknya dibiarkan kuliah jauh jauh di luar kota ?
---------------------
Huahhhh... pertanyaan pertama jelas langsung di jawab " ya kangen lah " masa sama anak sendiri ngga kangen?? Aku pernah send email ke anakku ttg kangen ini : Ternyata kangen juga sama Mas Tico, kangen nyuruh nyuruh... nyuruh mandi, nyuruh segera sholat, nyuruh makan... hahahahaha...."
cuman satu hal yang ngga pernah keluar dari my lip ( seingatku nih) " nyuruh belajar !!!"
sebenarnya dengan tehnologi sekarang, bisa tetap nyuruh nyuruh sih... tiap jam sholat , telp... , tapi masa sih segitunya? biarlah dia belajar mengatur hidup dan dirinya sendiri.
------------------------
Minggu lalu sms ke seorang teman yang putranya kuliah di kota yang sama, Isinya " Gimana kabar anaknya bu? sudah pernah nengok ke sana sejak awal kuliah ?
si temen menjawab "wah sudah sering mbak... beberapa kali sudah nengok " hah? padahal kuliahnya baru jalan 3 bulan... artinya tiap bulan sdh kesana ... weleh weleh... sementara daku cuman baru bisa telp , email dan sms aja... hiks hiks...
-------------------------------------
Pertanyaan kedua : Lah lebih kasian lagi kalo dia tetap di bawah ketiak orang tuanya... kapan besarnya, kapan mandirinya? kapan belajarnya?
Justru seorang anak harus belajar lepas dari zona nyaman nya di rumah dan mulai belajar hidup di dalam masyarakat jika kita menginginkan anak kita sukses dalam menata hidupnya. Mungkin dia akan menemukan banyak hambatan dalam pejalanannya, tapi dia juga akan banyak belajar untuk menemukan jalan keluar, mungkin dia akan pernah jatuh, untuk kemudian berjuang dan bangkit kembali, mungkin dia akan tertusuk duri dan belajar mencabut duri tersebut...
Hidup adalah perjuangan dan petualangan untuk mencari ridho Allah... itu lah yang harus selalu terpatri dalam benak seorang anak.
Hidup itu tidak mudah, itulah sebabnya Allah memberi kita pikiran, akal, fisik, mental dan tentunya iman untuk mengatasi kesulitan kesulitan yang akan kita temui.
------------------
Seorang ibu, kenalanku berkata " saya ngga mau anak tunggal saya kuliah jauh jauh, biar di sini aja, jadi saya masih bisa mengawasi, dan ngurusin "
saya speechless deh.... semoga anaknya tidak tertekan dengan doktrin ibunya.
Semoga Allah memberi kekuatan, kemampuan , kesabaran dan keikhlasan dalam mengatasi hal hal yang tejadi dalam kehidupan kita....
amin
Minggu, 28 September 2014
Wisuda
ini wisuda keduaku dengan jeda waktu 21 tahun.
Tidak terlalu antusias sebenarnya dengan prosesi wisuda kali ini, berbeda dengan 21 tahun yang lalu, kala menamatkan jenjang strata 1.Dulu... berbulan bulan sebelumnya harus menabung untuk bisa pergi "nyalon" di sebuah salon yang terkenal top dan muahalnya auzubillah... ( uang saku sebulan 60 ribu , biaya nyalon 25 ribu !!!) makanya kudu nabung jauh hari sebelumnya.
Tapi hasilnya very very satisfaction, malah saking kerennya, sampai sampai sebuah foto studio memajang foto diriku dengan toga sebagai bintang iklan di studionya. hahaha...
Pulang wisuda, trus ke foto studio untuk mengabadikan moment bersama ibu dan adik tersayang yang hadir di wisuda tsb.
Wisuda kali ini, bahkan untuk togapun aku males banget beli, telp telp temen temen siapa tau punya kenalan S2 yang toganya bisa di pinjam. Walaupun hasilnya ternyata banyak kolega yang S2 nya ngga sejurusan sehingga atributnya beda. Dan akhirnya harus beli juga, trus pake acara mengecilkan lagi. karena toganya sebesar tenda pramuka. wuaalahhhh...
untuk nyalon... ah males banget. sampai sehari menjelang wisuda, seorang keponakan yang kebetulan wisuda juga nawarin untuk dandan sama sama, karena dia memanggil tukang rias ke rumah. Yah... ikutan lah, karena kalo dandan sendiri juga ngga punya perlengkapan apa apa. cuman modal bedak dan lipstik, nambah pensil alis doank. apa jadinya coba .
Pulang Wisuda, suami tersayang nawarin, ke foto studio yooo, aku jawab " males ah..." foto-foto sendiri aja cukup dah. Sudah ngga jamannya kayanya untuk mejeng foto wisuda di rumah.
Yang berkesan di wisuda kali ini adalah prestasi mengharu biru, berhasil menjadi wisudawan program pasca sarjana terbaik, dengan predikat cum laude. wuih..... dapat notebook dari rektor, orgi dari Prog Studi MM, pigura besar dari Fakultas.
Semoga Allah memberkahi ilmu yang kudapat dan memberi petunjuk senantiasa... amin..
Buat semua yang sudah mendukung... semoga Allah yang membalas semuanya ya...
with sahabat ~Rachmawati
Mimpi berikutnya Program doktor ( foto dulu lah di depan gedungnya ;-))
Tidak terlalu antusias sebenarnya dengan prosesi wisuda kali ini, berbeda dengan 21 tahun yang lalu, kala menamatkan jenjang strata 1.Dulu... berbulan bulan sebelumnya harus menabung untuk bisa pergi "nyalon" di sebuah salon yang terkenal top dan muahalnya auzubillah... ( uang saku sebulan 60 ribu , biaya nyalon 25 ribu !!!) makanya kudu nabung jauh hari sebelumnya.
Tapi hasilnya very very satisfaction, malah saking kerennya, sampai sampai sebuah foto studio memajang foto diriku dengan toga sebagai bintang iklan di studionya. hahaha...
Pulang wisuda, trus ke foto studio untuk mengabadikan moment bersama ibu dan adik tersayang yang hadir di wisuda tsb.
Wisuda kali ini, bahkan untuk togapun aku males banget beli, telp telp temen temen siapa tau punya kenalan S2 yang toganya bisa di pinjam. Walaupun hasilnya ternyata banyak kolega yang S2 nya ngga sejurusan sehingga atributnya beda. Dan akhirnya harus beli juga, trus pake acara mengecilkan lagi. karena toganya sebesar tenda pramuka. wuaalahhhh...
untuk nyalon... ah males banget. sampai sehari menjelang wisuda, seorang keponakan yang kebetulan wisuda juga nawarin untuk dandan sama sama, karena dia memanggil tukang rias ke rumah. Yah... ikutan lah, karena kalo dandan sendiri juga ngga punya perlengkapan apa apa. cuman modal bedak dan lipstik, nambah pensil alis doank. apa jadinya coba .
Pulang Wisuda, suami tersayang nawarin, ke foto studio yooo, aku jawab " males ah..." foto-foto sendiri aja cukup dah. Sudah ngga jamannya kayanya untuk mejeng foto wisuda di rumah.
Yang berkesan di wisuda kali ini adalah prestasi mengharu biru, berhasil menjadi wisudawan program pasca sarjana terbaik, dengan predikat cum laude. wuih..... dapat notebook dari rektor, orgi dari Prog Studi MM, pigura besar dari Fakultas.
Semoga Allah memberkahi ilmu yang kudapat dan memberi petunjuk senantiasa... amin..
Buat semua yang sudah mendukung... semoga Allah yang membalas semuanya ya...
with sahabat ~Rachmawati
Mimpi berikutnya Program doktor ( foto dulu lah di depan gedungnya ;-))
Selasa, 16 September 2014
ukuran sukses dan tidak sukses
Dalam moment reuni, selalu muncul ukuran sukses dan tidak sukses seseorang, disetiap pikiran walaupun tidak pernah tercetus secara vulgar.
Basa basi seorang rekan lama adalah "sudah punya anak berapa? tinggal di mana sekarang ? kadang tercetus pertanyaan "masih kerja di tempat lama ?"
Dan tdk pernah seorang pun yang lancang menanyakan "sekarang sudah posisi apa?" pakai mobil apa? depositonya sudah berapa? rumahnya ada berapa?
Tetapi... dalam perbincangan selanjutnya, maka perhatikan saja, mereka yang sukses dalam ukuran materi akan sedikit banyak berkisah ttg "kekayaan materinya" walaupun kadang hanya diselip selipkan, atau menunggu seseorang bertanya ttg usahanya, kemudian langsung di respon dengan panjang lebar ttg kesuksesannya. ( karena pertanyan tersebut memang sudah di tunggu -tunggu).
hanya sedikit orang sukses yang dengan rendah hati " menyimpan "cerita kehebatannya.
Yang merasa punya anak anak hebat, tak mau kalah, bercerita ttg "kehebatan" masing masing anaknya, dengan harapan mendapat tatapan kagum dan terpana dari orang lain.
Semua orang ingin dipandang sukses dan berhasil dalam hidupnya.
Sementara bagi mereka yang kurang beruntung dengan ukuran kesuskesan materi atau tidak punya anak yang layak dibanggakan, hanya akan menjadi pendengar yang santun, sesekali menimpali dengan kalimat pendek " oh.. hebatnya suamimu..." wah... anakmu hebat banget".
kadang ketika si sukses balik bertanya ( basa basi sebenarnya ) " bagaimana dengan anakmu? maka si pendengar setia hanya bercerita pendek ttg berapa anaknya dan saat ini sekolah atau bekerja di mana. cukup itu. tanpa ada yang bisa di lebih-lebihkan.
moment reuni dan silaturahim seperti ini akhirnya menjadi moment yang tidak menyenangkan bagi mereka yang merasa biasa saja. Tetapi justru menjadi moment yang ditunggu -tunggu oleh mereka yang merasa sukses.
Sebenarnya... apa makna sukses itu ?
Sukses adalah ketika berhasil mencapai impian ( cita-cita) , kata seorang rekan. maka hati hatilah dengan impian atau cita-cita yang kita cetuskan. karena akan menjadi barometer kesuksesan dari sudut pandang kita.
Masih banyak orang terbelenggu dengan ukuran sukses duniawi : yaitu punya usaha maju, posisi hebat , harta melimpah. Ya... itu memang tidak salah, karena itu salah satu ukuran kesuksesan secara awam.
Ada juga yang mengukur sukses dari kemampuan membesarkan keturunan, Jadi jika punya anak anak hebat, membanggakan orang tua dengan berbagai prestasinya, maka itulah kesuksesan.
Ada juga yang bilang, sukses itu jika mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, singkatnya adalah di dunia memiliki harta dan tak pernah melupakan kehidupan di akhirat dengan amar ma'ruf nahi munkar.
Yang jelas setiap orang memiliki pandangan tentang kesuksesan, bervariasi dari berbagai sudut pandang. tak ada satu pun yang salah...
yang salah adalah ketika bersilaturahim ke rumah seorang rekan lama, kemudian kita melihat rumah yang mewah dan seketika kita merasa iri dengan kesuksesan nya dan membandingkan dengan rumah mungil kita, lalu kita melupakan rasa syukur bahwa kita sampai saat ini tidak kurang suatu apapun karena Allah sesungguhnya menyayangi kita.
Jadi...mulailah pagi dengan perasaan syukur kepada NYA, karena sesungguhnya kesuksesan adalah ketika kita selalu merasa cukup dan bersyukur atas karuniaNYA sepanjang waktu....
Basa basi seorang rekan lama adalah "sudah punya anak berapa? tinggal di mana sekarang ? kadang tercetus pertanyaan "masih kerja di tempat lama ?"
Dan tdk pernah seorang pun yang lancang menanyakan "sekarang sudah posisi apa?" pakai mobil apa? depositonya sudah berapa? rumahnya ada berapa?
Tetapi... dalam perbincangan selanjutnya, maka perhatikan saja, mereka yang sukses dalam ukuran materi akan sedikit banyak berkisah ttg "kekayaan materinya" walaupun kadang hanya diselip selipkan, atau menunggu seseorang bertanya ttg usahanya, kemudian langsung di respon dengan panjang lebar ttg kesuksesannya. ( karena pertanyan tersebut memang sudah di tunggu -tunggu).
hanya sedikit orang sukses yang dengan rendah hati " menyimpan "cerita kehebatannya.
Yang merasa punya anak anak hebat, tak mau kalah, bercerita ttg "kehebatan" masing masing anaknya, dengan harapan mendapat tatapan kagum dan terpana dari orang lain.
Semua orang ingin dipandang sukses dan berhasil dalam hidupnya.
Sementara bagi mereka yang kurang beruntung dengan ukuran kesuskesan materi atau tidak punya anak yang layak dibanggakan, hanya akan menjadi pendengar yang santun, sesekali menimpali dengan kalimat pendek " oh.. hebatnya suamimu..." wah... anakmu hebat banget".
kadang ketika si sukses balik bertanya ( basa basi sebenarnya ) " bagaimana dengan anakmu? maka si pendengar setia hanya bercerita pendek ttg berapa anaknya dan saat ini sekolah atau bekerja di mana. cukup itu. tanpa ada yang bisa di lebih-lebihkan.
moment reuni dan silaturahim seperti ini akhirnya menjadi moment yang tidak menyenangkan bagi mereka yang merasa biasa saja. Tetapi justru menjadi moment yang ditunggu -tunggu oleh mereka yang merasa sukses.
Sebenarnya... apa makna sukses itu ?
Sukses adalah ketika berhasil mencapai impian ( cita-cita) , kata seorang rekan. maka hati hatilah dengan impian atau cita-cita yang kita cetuskan. karena akan menjadi barometer kesuksesan dari sudut pandang kita.
Masih banyak orang terbelenggu dengan ukuran sukses duniawi : yaitu punya usaha maju, posisi hebat , harta melimpah. Ya... itu memang tidak salah, karena itu salah satu ukuran kesuksesan secara awam.
Ada juga yang mengukur sukses dari kemampuan membesarkan keturunan, Jadi jika punya anak anak hebat, membanggakan orang tua dengan berbagai prestasinya, maka itulah kesuksesan.
Ada juga yang bilang, sukses itu jika mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat, singkatnya adalah di dunia memiliki harta dan tak pernah melupakan kehidupan di akhirat dengan amar ma'ruf nahi munkar.
Yang jelas setiap orang memiliki pandangan tentang kesuksesan, bervariasi dari berbagai sudut pandang. tak ada satu pun yang salah...
yang salah adalah ketika bersilaturahim ke rumah seorang rekan lama, kemudian kita melihat rumah yang mewah dan seketika kita merasa iri dengan kesuksesan nya dan membandingkan dengan rumah mungil kita, lalu kita melupakan rasa syukur bahwa kita sampai saat ini tidak kurang suatu apapun karena Allah sesungguhnya menyayangi kita.
Jadi...mulailah pagi dengan perasaan syukur kepada NYA, karena sesungguhnya kesuksesan adalah ketika kita selalu merasa cukup dan bersyukur atas karuniaNYA sepanjang waktu....
Minggu, 14 September 2014
berikan surgaMu untuknya ya Rabb...
Kamis malam, 11 Sept 2014, pukul 22.40 wita, ibu menelponku mengabarkan bahwa mbah karang jati sudah tiada, dalam usia 86 tahun beliau kembali kepada Sang Penciptanya, pemilik seluruh kehidupan di alam semesta ini.
Bertahun-tahun hidup bersama dengan beliau, sungguh memberikan banyak pelajaran berharga, yang kemudian beberapa diantaranya menjadi komitmen dalam kehidupanku...
Seperti kata seorang sepupu dalam network bb diantara keluarga sesaat setelah mbah di kebumikan :
"Mbah tidak bisa membaca, mbah juga tidak bisa menulis, tetapi beliau adalah pekerja keras dan semangatnya itu yang pantas di tiru oleh semua keturunannya.
Atau tulisan seorang sepupu lainnya di wall FB nya, " she was teach me, how to be good listener "
Memang dalam sepanjang usianya mbah tidak pernah mengenyam pendidikan, sehingga beliau tiak mampu membaca dan menulis, tetapi beliau mampu berhitung dengan cermat karena sepanjang hidupnya beliau adalah seorang pedagang.
Mbah sangat perfectionist, ketika beliau masih sanggup untuk mengerjakan sendiri, tak ada seorangpun yang diperkenankan untuk membantunya. bahkan di usia tuanya pun, jika kami berkunjung beliau lah yang repot untuk menyajikan sarapan untuk kami. Rumah mbah persis di depan pasar , dan beliau menikmati bolak balik ke pasar untuk sekedar membeli nasi kuning, nasi pecel, atau apapun pesanan kami. Bukan kami malas untuk membeli sendiri, tetapi semata-mata hal ini untuk menyenangkan beliau, karena inilah caranya beliau merasa masih diperlukan dan inilah caranya beliau menunjukkan kasih sayang pada kami,
Jika tiba saat lebaran, maka semua berkumpul dan selalu menantikan moment berbagi angpau, terutama angpau dari mbah.Semua cucu, cicit mendapat angpau yang sama. Lucunya... uang angpau itu sebagian berasal dari pemberian para anak beliau, sehingga sebenarnya beliau hanya perantara untuk diberikan lagi pada masing masing cucu.
Mbah tidak bisa mendiamkan hal yang tidak berkenan di hatinya, even untuk kenakalan kenakalan anak kecil , beliau bisa "berceramah" panjang lebar dan mbah kerap kali mampu menahan marahnya sampai beberapa waktu... Jika mbah sudah marah dengan segala petuahnya... maka nasehat terbaik bagi para "terdakwa" adalah diam mendengarkan tanpa perlu mengeluarkan komentar sedikitpun... itulah yang membuat sepupuku berkata bahwa dengan omelan mbah, dia dan kami semua belajar jadi pendengar yang baik.
Subhanallah... di usia senjanya menjelang kembali kepada sang pemilik, mbah diberikan kesabaran yang luar biasa...tidak ada "kecerewetan" dan kesulitan untuk menyayanginya...
Mbah mengajarkan banyak hal pada kami dalam kurun hidupnya...
semoga Allah ridho dan memberikan surga untuknya...
amin....
bersama mbah sesaat setelah weddingnya Ika, (aston hotel)
(the last lebaran 2014 with grandma)
Mbah with Mas Tico n' Alya (lebaran 2014)
happy smile mbah n' Alya ( Lebaran 2014)
(mengenang mbah Ginem...)
Bertahun-tahun hidup bersama dengan beliau, sungguh memberikan banyak pelajaran berharga, yang kemudian beberapa diantaranya menjadi komitmen dalam kehidupanku...
Seperti kata seorang sepupu dalam network bb diantara keluarga sesaat setelah mbah di kebumikan :
"Mbah tidak bisa membaca, mbah juga tidak bisa menulis, tetapi beliau adalah pekerja keras dan semangatnya itu yang pantas di tiru oleh semua keturunannya.
Atau tulisan seorang sepupu lainnya di wall FB nya, " she was teach me, how to be good listener "
Memang dalam sepanjang usianya mbah tidak pernah mengenyam pendidikan, sehingga beliau tiak mampu membaca dan menulis, tetapi beliau mampu berhitung dengan cermat karena sepanjang hidupnya beliau adalah seorang pedagang.
Mbah sangat perfectionist, ketika beliau masih sanggup untuk mengerjakan sendiri, tak ada seorangpun yang diperkenankan untuk membantunya. bahkan di usia tuanya pun, jika kami berkunjung beliau lah yang repot untuk menyajikan sarapan untuk kami. Rumah mbah persis di depan pasar , dan beliau menikmati bolak balik ke pasar untuk sekedar membeli nasi kuning, nasi pecel, atau apapun pesanan kami. Bukan kami malas untuk membeli sendiri, tetapi semata-mata hal ini untuk menyenangkan beliau, karena inilah caranya beliau merasa masih diperlukan dan inilah caranya beliau menunjukkan kasih sayang pada kami,
Jika tiba saat lebaran, maka semua berkumpul dan selalu menantikan moment berbagi angpau, terutama angpau dari mbah.Semua cucu, cicit mendapat angpau yang sama. Lucunya... uang angpau itu sebagian berasal dari pemberian para anak beliau, sehingga sebenarnya beliau hanya perantara untuk diberikan lagi pada masing masing cucu.
Mbah tidak bisa mendiamkan hal yang tidak berkenan di hatinya, even untuk kenakalan kenakalan anak kecil , beliau bisa "berceramah" panjang lebar dan mbah kerap kali mampu menahan marahnya sampai beberapa waktu... Jika mbah sudah marah dengan segala petuahnya... maka nasehat terbaik bagi para "terdakwa" adalah diam mendengarkan tanpa perlu mengeluarkan komentar sedikitpun... itulah yang membuat sepupuku berkata bahwa dengan omelan mbah, dia dan kami semua belajar jadi pendengar yang baik.
Subhanallah... di usia senjanya menjelang kembali kepada sang pemilik, mbah diberikan kesabaran yang luar biasa...tidak ada "kecerewetan" dan kesulitan untuk menyayanginya...
Mbah mengajarkan banyak hal pada kami dalam kurun hidupnya...
semoga Allah ridho dan memberikan surga untuknya...
amin....
bersama mbah sesaat setelah weddingnya Ika, (aston hotel)
(the last lebaran 2014 with grandma)
Mbah with Mas Tico n' Alya (lebaran 2014)
happy smile mbah n' Alya ( Lebaran 2014)
(mengenang mbah Ginem...)
Senin, 01 September 2014
Ujian dalam kehidupan
Banyak ujian yang akan dan sudah kita lalui dalam kehidupan, kadang ujian tersebut langsung ke diri kita, kadang tanpa kita sadari ujian itu melalui orang lain. sesungguhnya Allah menguji dengan seribu satu cara dan melewati berbagai pintu.
Tapi percayalah semua ujian Allah masih dalam batas kemampuan kita untuk menanggungnya, karena sesuai dengan firmanNYA yang kita yakini.
ketika mendengar mbah buyut sakit di usia uzurnya, dengan berbagai penurunan fungsi organ tubuh, sesungguhnya Allah menguji beliau dan kami semua dengan peristiwa tersebut. Buat mbah buyut tentu saja kesakitan dan ketidaknyamanan yang dialaminya adalah sebuah ujian berat di usia tuanya. Buat kami semua Allah menguji kesabaran kami merawat mbah buyut sampai tiba masanya kembali menghadap Allah.
Dan aku sendiri selalu memohon agar anak-anak mbah buyut (ibuku dan tante-tante serta om-om ku selalu dilimpahkan kesabaran, kekuatan dan keikhlasan merawat ibunda mereka).
Kali lain, seorang keluarga diuji dengan keterlibatan dengan rentenir, mungkin ini bukan ujian (karena ujiannya justru adalah di awal ketika sang rentenir menawarkan jasanya... bisakah kita menolak karena jalan ini haram...). Ketika kita kemudian terjerumus dan akhirnya terlibat dengan hutang sedemikian besar , maka ini sebenarnya balasan Tuhan atas perbuatan kita ( masih untung sudah di cicil di dunia... dan kita bisa segera menyadari lallu kemudian bersegera memohon ampunan kepada Allah).
Bagaimana kita menyikapi ketika keluarga tsb meminta pertolongan kita untuk membayar hutang hutang ke rentenir? sebagian bilang... jika kita membantu , itu sama saja kita terlibat dengan hal yang haram. sebagian lagi mengatakan, bukankah membantu seseorang dari belitan masalah adalah kewajiban kita sesama muslin, terlebih ini adalah saudara kita.
nampaknya aku harus mencari Fatwa tentang hal ini ke para ustadz...
----------------
Tapi percayalah semua ujian Allah masih dalam batas kemampuan kita untuk menanggungnya, karena sesuai dengan firmanNYA yang kita yakini.
ketika mendengar mbah buyut sakit di usia uzurnya, dengan berbagai penurunan fungsi organ tubuh, sesungguhnya Allah menguji beliau dan kami semua dengan peristiwa tersebut. Buat mbah buyut tentu saja kesakitan dan ketidaknyamanan yang dialaminya adalah sebuah ujian berat di usia tuanya. Buat kami semua Allah menguji kesabaran kami merawat mbah buyut sampai tiba masanya kembali menghadap Allah.
Dan aku sendiri selalu memohon agar anak-anak mbah buyut (ibuku dan tante-tante serta om-om ku selalu dilimpahkan kesabaran, kekuatan dan keikhlasan merawat ibunda mereka).
Kali lain, seorang keluarga diuji dengan keterlibatan dengan rentenir, mungkin ini bukan ujian (karena ujiannya justru adalah di awal ketika sang rentenir menawarkan jasanya... bisakah kita menolak karena jalan ini haram...). Ketika kita kemudian terjerumus dan akhirnya terlibat dengan hutang sedemikian besar , maka ini sebenarnya balasan Tuhan atas perbuatan kita ( masih untung sudah di cicil di dunia... dan kita bisa segera menyadari lallu kemudian bersegera memohon ampunan kepada Allah).
Bagaimana kita menyikapi ketika keluarga tsb meminta pertolongan kita untuk membayar hutang hutang ke rentenir? sebagian bilang... jika kita membantu , itu sama saja kita terlibat dengan hal yang haram. sebagian lagi mengatakan, bukankah membantu seseorang dari belitan masalah adalah kewajiban kita sesama muslin, terlebih ini adalah saudara kita.
nampaknya aku harus mencari Fatwa tentang hal ini ke para ustadz...
----------------
Wujud Nyata Keikhlasan
Jum'at , 29 Agustus 2014
Kami memutuskan mempercepat perjalanan ke Surabaya untuk mengunjungi umi Lely yang sedang menghadapi ujian berat dengan tumor otak stadium IV. Awalnya di schedulekan tanggal 12 September dengan pertimbangan harga ticked yang lebih murah. Tetapi setelah di pikir-pikir lebih jauh...lebih cepat berangkat lebih baik. Akhirnya jadilah kami 4 orang bunda bunda SC Samarinda bersilaturahim ke Surabaya di hari itu.
Info " hanya 200-300 m " jarak rumah pak Ustadz Aziz dari hotel Sinar, ternyata bualan belaka. faktanya sekitar 2 km dan ditempuh dengan angkot ( kalo mau jalan kaki bisa juga sih... asal mau pegel pegel).
Yang kami lihat , umi Lely memang sakit, kondisinya tidak bisa banyak bergerak, tidak mampu berkomunikasi lagi, tetapi masih bisa menatap kami satu persatu, walaupun kami tidak yakin apakah beliau masih mengenali kami, karena kata perawatnya kadang ingatan beliau muncul, detik berikutnya hilang...
Biarlah... kami tidak minta untuk diingat-ingat, yang kami inginkan adalah bertemu beliau saja.
Kami sangat surprise, ketika melihat wajah beliau yang masih nampak segar, tidak pucat seperti layaknya orang yang sudah sakit nyaris 2 tahun. wajahnya memancarkan aura seperti tidak sakit, hanya ketika kita menatap matanya ( yang sebelah kanan sdh mulai dipengaruhioleh ganansnya sel 2 tumor) barulah terlihat beliau menahan sakit yang luar biasa. yang surprise lagi beliau kadang tersenyum... Subhannallah.... sungguh hari itu kami melihat contoh dan wujud nyata sebuah keikhlasan atas ujian yang di berikan.
Sempat Pak Ustadz memberi tausiyah kepada kami : bahwa sesungguhnya jika kita mengaku seorang perenang, dan kemudian kita diuji dengan pengakuan kita tersebut, ( diminta terjun ke air dan berenang) tentu saja kita akan dengan suka cita menjalankan, karena kita meyakini kemampuan kita.
Nah jika mengaku perenang , padahal ketika di uji untuk berenang kita malah takut, khawatir, cemas was was..., itu artinya kita bukan seperti pengakuan kita. artinya kita bukan perenang....
Jika kita mengaku beriman kepada Allah, tentu saja kita dengan senang hati dan penuh suka cita menjalankan ujian keimanan kita.
Tetapi jika kita saat diuji justru berkeluh kesah, cemas, takut atau malah menyalahkan Sang pencipta... lantas apalah arti pengakuan kita itu ?
Bersyukurlah selalu untuk setiap ujian yang diberikan NYA kepada kita, karena ujian demi ujian Insya Allah memperkokoh keimanan kita.
Semoga Allah memberkahi dan ridho dengan silaturahim kami ke Surabaya.
Untuk Umi Lely, semoga Allah ridho dan melapangkan jalan umi memasuki surgaNYA pada saatnya kelak.
Kami memutuskan mempercepat perjalanan ke Surabaya untuk mengunjungi umi Lely yang sedang menghadapi ujian berat dengan tumor otak stadium IV. Awalnya di schedulekan tanggal 12 September dengan pertimbangan harga ticked yang lebih murah. Tetapi setelah di pikir-pikir lebih jauh...lebih cepat berangkat lebih baik. Akhirnya jadilah kami 4 orang bunda bunda SC Samarinda bersilaturahim ke Surabaya di hari itu.
Info " hanya 200-300 m " jarak rumah pak Ustadz Aziz dari hotel Sinar, ternyata bualan belaka. faktanya sekitar 2 km dan ditempuh dengan angkot ( kalo mau jalan kaki bisa juga sih... asal mau pegel pegel).
Yang kami lihat , umi Lely memang sakit, kondisinya tidak bisa banyak bergerak, tidak mampu berkomunikasi lagi, tetapi masih bisa menatap kami satu persatu, walaupun kami tidak yakin apakah beliau masih mengenali kami, karena kata perawatnya kadang ingatan beliau muncul, detik berikutnya hilang...
Biarlah... kami tidak minta untuk diingat-ingat, yang kami inginkan adalah bertemu beliau saja.
Kami sangat surprise, ketika melihat wajah beliau yang masih nampak segar, tidak pucat seperti layaknya orang yang sudah sakit nyaris 2 tahun. wajahnya memancarkan aura seperti tidak sakit, hanya ketika kita menatap matanya ( yang sebelah kanan sdh mulai dipengaruhioleh ganansnya sel 2 tumor) barulah terlihat beliau menahan sakit yang luar biasa. yang surprise lagi beliau kadang tersenyum... Subhannallah.... sungguh hari itu kami melihat contoh dan wujud nyata sebuah keikhlasan atas ujian yang di berikan.
Sempat Pak Ustadz memberi tausiyah kepada kami : bahwa sesungguhnya jika kita mengaku seorang perenang, dan kemudian kita diuji dengan pengakuan kita tersebut, ( diminta terjun ke air dan berenang) tentu saja kita akan dengan suka cita menjalankan, karena kita meyakini kemampuan kita.
Nah jika mengaku perenang , padahal ketika di uji untuk berenang kita malah takut, khawatir, cemas was was..., itu artinya kita bukan seperti pengakuan kita. artinya kita bukan perenang....
Jika kita mengaku beriman kepada Allah, tentu saja kita dengan senang hati dan penuh suka cita menjalankan ujian keimanan kita.
Tetapi jika kita saat diuji justru berkeluh kesah, cemas, takut atau malah menyalahkan Sang pencipta... lantas apalah arti pengakuan kita itu ?
Bersyukurlah selalu untuk setiap ujian yang diberikan NYA kepada kita, karena ujian demi ujian Insya Allah memperkokoh keimanan kita.
Semoga Allah memberkahi dan ridho dengan silaturahim kami ke Surabaya.
Untuk Umi Lely, semoga Allah ridho dan melapangkan jalan umi memasuki surgaNYA pada saatnya kelak.
Langganan:
Postingan (Atom)