Kegiatan Ta’lim hari ini sangat berbeda dari biasanya, Karena Ustazah yang biasa mengisi sedang berhalangan hadir, maka atas beberapa inisiatif jadilah hari ini , “cooking class day”.
Sederhana saja yang di demokan, yaitu membuat pudding roti dan salad. Karena ide masak nya berasal dari aku, maka akhirnya akulah yang menjadi “Farah quinn” siang ini.
Sangat terasa betapa menyenangkan nya ketika bisa berbagi sesuatu dengan sesama, walaupun hanya sebuah resep sederhana, seperti pudding roti yang intinya memanfaatkan bahan tersisa di kulkas.
Tetapi melihat antusias para rekan, pertanyaan pertanyaan yang diajukan, rasanya sungguh sangat bermakna sharing tersebut.
Saya pikir, jika kita melakukan sesuatu dengan ikhlas dan hati yang nyaman, maka sebenarnya balasan dari Allah atas “sedekah” ilmu kita langsung terasa dalam bentuk Kebahagiaan yang kita rasakan langsung saat itu juga di tengah tengah antusiasme . tidak perlu menunggu balasan di hari akhir.
Rasanya kita masih sering menghitung amal ibadah dan reward dari Allah atas semua perbuatan yang kita lakukan selama hidup, yang akan di berikan di akhirat, Tetapi sebenarnya.. jika mau cermat, perasaan lapang, bahagia, terharu yang kita rasakan saat kita melakukan kebaikan terhadap sesama, itulah balasan yang sesungguhnya yang sangat jarang kita pedulikan.
Saya teringat ketika masih aktif sebagai voulenteer di dunia pendidikan, ketika harus menghabiskan week end di tengah tengah para guru di ujung ujung terpencil kota kabupaten demi mengajarkan sebuah ilmu cara mengajar secara aktif( Active Learning) Betapa bahagianya, bisa berguna untuk mereka, disambut dengan antusias dan kemudian dilepas dengan ketidak relaan ( kenapa hanya 2 hari workshop nya Tanya mereka, krn mereka belum merasa puas dan masih ingin bersama kami).
Jadi, menurut saya bukan hanya ketika kita memberi sesuatu dalam bentuk materi yang harus dikedepankan, tetapi…. Memberi kebaikan sekecil apapun kepada orang lain dan itu bermanfaat bagi nya, maka percayalah, bahwa Allah langsung membalas nya dengan kebahagiaan yang kita rasakan saat itu juga. Bukankah perasaan bahagia, sedih, gundah, gelisah, tenang, damai, terharu, semua adalah milik NYA… dan akan diberikan kepada siapapun umat yang Dia kehendaki.
Jadi… sekali lagi memberilah , jangan sibuk dengan mengharap apalagi meminta, karena perasaan bahagia yang kita rasakan ketika memberi itu adalah luar biasa yang tak terkalahkan dengan apapun, jika perasaan itu benar benar di berikan ke Allah di hati kita. Semoga…. Kita senantiasa menjadi hamba hamba nya yang diberi petunjuk dari sisi NYA.
Jumat, 30 Desember 2011
Selasa, 27 Desember 2011
Memang Jago atau keberuntungan?
Sabtu pagi, Aku menghadiri resepsi perayaan hari Ibu di rumah jabatan Walikota, inipun karena perusahaan menjadi pemenang terbaik 2 untuk pembinaaan terhadap tenaga kerja wanita di tingkat kota,sehingga “wajib” hadir untuk menerima reward. Karena Astrico kebetulan mau ke tb gramedia ( yg kebetulan terletak di Mall samping rumah walikota) maka sambil menunggu mall buka, dia pun mau saja ku ajak “nunggu” di ruang resepsi, sekalian ku pesankan untuk jadi fotografer, Jarang jarang kan bisa ketemu Pak walikota dan menerima penghargaan, masa sih ngga di abadikan
Di tengah acara, hand phone yang di silent memberi tanda ada sms masuk : isinya “
Ass.wr.wb. Selamat ya bu, Astrico menjadi juara Harapan I Olympiade Fisika di Unmul untuk tingkat SMA. Tita.” ( ini nama salah seorang ustz nya ketika di SD)
Kutunjukan sms itu ke Astrico, wah ini hoax kali komentarnya, karena sama sekali dia tidak yakin bisa meraih peringkat juara, sehubungan dengan keikut sertaannya juga adalah eksebishi alias pengkaderan, karena dia juga baru kelas 1 dan yang di jagokan menang adalah kakak kakak kelas 3.
Ya… udah , ntar kita check aja ke unmul setelah acara.ini. Ngga lama giliran Hp nya yang bergetar, dan rupanya salah seorang guru pembimbingnya menyampaikan kabar tsb. Barulah dia yakin, bahwa dia benar benar menang.
Hal yang sama pernah terjadi 8 bulan yang lalu ketika masih di SMP, krn hujan lebat sehingga terhalang untuk menghadiri pengumuman pemenang olympiade sains di unmul juga, tetapi bbrp temannya sms ke hp ku ( heran ya.. kenapa ke HP ibunya? Bukan ke HP astrico nya?)
Tante , astrico juara I nih untuk olympiade fisika smp dan juga menjadi juara untuk kategori the best essay. Hadiahnya banyak lho tante, bilang ke astrico ntar traktir kita makan ya…
Begitulah…. Kabar menggembirakan tersebut di respon oleh nya dengan sangat datar, tidak ada luapan kegembiraan yang diperlihatkan. Ini anak memang sangat bisa mengendalikan emosinya.
Sementara , aku sang bunda rasanya pengen seluruh dunia tau, kalo dia menjadi pemenang.
Mungkin karena sering nya dia ikut kejuaraan sejak SD, dulu bidangnya matematika dan bahasa inggris, sekarang beralih ke fisika dan sedang running adalah programmer ( wuih…. Keren ngga tuh). Kadang kalah, seringnya sih dapat peringkat, walaupun tidak melulu juara I.
Sehingga dia sudah terbiasa dengan prestasi prestasi tersebut dan menganggapnya biasa saja. Justru seharian kemarin dia selalu menyampaikan, bahwa prestasi nya kali ini adalah murni keberuntungan , karena secara faktanya dia belum belajar materi materi yang di ujikan dalam olympiade tersebut.
Hari ini aku melihat peringkat nilai dari seluruh peserta yang berasal dr SMA nya.. ups…. Nilai Astrico jauh melampaui nilai kakak kakak kelasnya. …. So… mungkin seperti kata dia ini adalah keberuntungan. Mungkin Tuhan sedang ingin menguji hatinya dengan prestasi ini. Semoga dia tidak menjadi pongah dan tinggi hati dengan prestasi ini, semoga tetap rendah hati, ikhlas dan terus mengembangkan kemampuannya, Semoga Allah memudahkan langkahnya dalam setiap kebaikan . amin.
Di tengah acara, hand phone yang di silent memberi tanda ada sms masuk : isinya “
Ass.wr.wb. Selamat ya bu, Astrico menjadi juara Harapan I Olympiade Fisika di Unmul untuk tingkat SMA. Tita.” ( ini nama salah seorang ustz nya ketika di SD)
Kutunjukan sms itu ke Astrico, wah ini hoax kali komentarnya, karena sama sekali dia tidak yakin bisa meraih peringkat juara, sehubungan dengan keikut sertaannya juga adalah eksebishi alias pengkaderan, karena dia juga baru kelas 1 dan yang di jagokan menang adalah kakak kakak kelas 3.
Ya… udah , ntar kita check aja ke unmul setelah acara.ini. Ngga lama giliran Hp nya yang bergetar, dan rupanya salah seorang guru pembimbingnya menyampaikan kabar tsb. Barulah dia yakin, bahwa dia benar benar menang.
Hal yang sama pernah terjadi 8 bulan yang lalu ketika masih di SMP, krn hujan lebat sehingga terhalang untuk menghadiri pengumuman pemenang olympiade sains di unmul juga, tetapi bbrp temannya sms ke hp ku ( heran ya.. kenapa ke HP ibunya? Bukan ke HP astrico nya?)
Tante , astrico juara I nih untuk olympiade fisika smp dan juga menjadi juara untuk kategori the best essay. Hadiahnya banyak lho tante, bilang ke astrico ntar traktir kita makan ya…
Begitulah…. Kabar menggembirakan tersebut di respon oleh nya dengan sangat datar, tidak ada luapan kegembiraan yang diperlihatkan. Ini anak memang sangat bisa mengendalikan emosinya.
Sementara , aku sang bunda rasanya pengen seluruh dunia tau, kalo dia menjadi pemenang.
Mungkin karena sering nya dia ikut kejuaraan sejak SD, dulu bidangnya matematika dan bahasa inggris, sekarang beralih ke fisika dan sedang running adalah programmer ( wuih…. Keren ngga tuh). Kadang kalah, seringnya sih dapat peringkat, walaupun tidak melulu juara I.
Sehingga dia sudah terbiasa dengan prestasi prestasi tersebut dan menganggapnya biasa saja. Justru seharian kemarin dia selalu menyampaikan, bahwa prestasi nya kali ini adalah murni keberuntungan , karena secara faktanya dia belum belajar materi materi yang di ujikan dalam olympiade tersebut.
Hari ini aku melihat peringkat nilai dari seluruh peserta yang berasal dr SMA nya.. ups…. Nilai Astrico jauh melampaui nilai kakak kakak kelasnya. …. So… mungkin seperti kata dia ini adalah keberuntungan. Mungkin Tuhan sedang ingin menguji hatinya dengan prestasi ini. Semoga dia tidak menjadi pongah dan tinggi hati dengan prestasi ini, semoga tetap rendah hati, ikhlas dan terus mengembangkan kemampuannya, Semoga Allah memudahkan langkahnya dalam setiap kebaikan . amin.
Senin, 28 November 2011
Sahabat
Kelihatannya sederhana dan mudah saja mendapatkan nya, tetapi fakta nya tidak demikian.
Hari ini , aku baru menyadari betapa sedikitnya sahabat yang ku punya, dalam arti sahabat yang secara konsisten bertemu, berkomunikasi, saling curhat, saling ngeledek, saling traktir.. dan saling saling yang lain. Padahal aku bukan orang yang sulit membina hubungan dengan orang lain, istilah psikologis nya aku cukup extrovert untuk berkawan dengan siapapun. Tetapi kenyataan yang ku alami. Sahabat yang konsisten dalam jalinan persahabatan hanya 1-2 orang. Itupun aku harus pertanyakan lagi, benar benarkah dia menganggapku sebagai sahabat nya juga.
Kalau di seleksi lagi .. akhirnya aku harus mengakui, bahwa saat ini aku tidak punya sahabat yang bisa aku curhati kapanpun aku mau, yang bisa aku ajak shopping diakhir pekan, yang dengan ringan ngajak makan dengan sisyem bss ( bayar sendiri sendiri). Benar benar tragis ya…, aku tidak punya sahabat untuk hal hal yang ingin kubagi dengan seseorang.
Apakah karena aku tidak punya teman ? wah… jauh dari itu, teman ku sekantor ini ada 100 an orang belum lagi mereka yang di factory yg sok kenal dan semua pasti ku akui sebagai temanku, teman di organisasi di luar, teman di lingkungan pengurus RT, teman di lingkungan rumah, teman di pengajian,teman di perkumpulan orang tua murid, teman teman arisan, teman di instransi instansi pemerintah, teman di klub sepeda…, teman teman voulenteer di dunia pendidikan , teman teman sekolah dari SD sd kuliah, teman teman mantan penghuni asrama mahasiswa dr daerah, teman kursus bahasa inggris, teman dari temanku yang ku akui juga sebagai teman karena aku dikenalkan. Dan buanyak…. Teman yang lain
Kenapa ya.. aku tidak punya sahabat , seperti ketika aku masih bersekolah, di setiap tingkatan aku pasti punya sahabat dalam kategori konsisten, tetapi setelah bekerja…. Sahabat sahabat itu melanglang buana…, akupun demikian… sekali sekali hanya say helo lewat sms dan itu tidak bisa dikategorikan “close friend”
Waktu terus berlalu, karier semakin berkembang, ternyata hal itu berbanding terbalik dengan jumlah sahabat yang kumiliki, semakin banyak kolega, semakin banyak relasi , tetapi semakin berkurang yang namanya sahabat.
Apakah karena dalam dunia kerja ini, aku tidak memiliki waktu untuk membina hubungan persahabatan yang bermutu? Bisa jadi itu penyebabnya, Dulu semasa sekolah, kapanpun waktu untuk hang out pasti bisa dilakukan tanpa banyak planning ini dan itu, pulang sekolah, atau disela sela jam kuliah bisa ngumpul bareng, sekedar makan gorengan dengan sohib sohib . Ngga mikir urusan di rumah, ngga mikir panjang terhadap tugas yang belum selesai, pokoknya selalu ada waktu untuk ha ha hi hi dengan mereka rekan se gank’, selalu ada waktu untuk berbagi peristiwa yang dialami oleh masing masing, seremeh dan sekonyol apapun kejadiannya.
Ketika masuk dunia kerja, minimal 8 jam di kantor, dengan posisi kantor yang jauh dari pusat kota dan waktu istirahat yang terbatas , sulit untuk membuat janji sekedar makan siang bersama , karena waktu akan terbuang percuma di jalan.
Akhir minggu, bukan waktu untuk istirahat, tetapi waktu untuk bekerja “rodi” di rumah, apalagi jika sdh punya keluarga, ngejagain anak ( karena pengasuh libur), masak, bersih bersih rumah.. wuih…..manalah sempat untuk telp telp para sahabat untuk ngajak ketemuan di mall, makan di tempat yg asyik, shopping bareng…
Kalaupun bisa, pasti ngga mungkin setiap minggu, paling banter bisanya sebulan atau 2 bulan sekali, itupun kadang gagal, karena ternyata merekapun punya sejuta kesibukan.
Alhasil… sahabat sih tetap sahabat, tetapi kualitas nya jika di ukur dari konsistensi pertemuan dan komunikasi sangatlah jauh menurun dibandingkan jaman sekolah dulu.
Dan kesimpulanku… aku memang tidak punya banyak sahabat saat ini. Kecuali satu orang, itupun jika dia mau mengakui aku sebagai sabahat nya.
Semoga dia mau ., sehingga nasib ku tidak tragis tragis amat. Seperti timnas yang dipecundangi oleh Malaysia di sea games kemarin ! Lho.. ngga nyambung banget sih…!!!!
Hari ini , aku baru menyadari betapa sedikitnya sahabat yang ku punya, dalam arti sahabat yang secara konsisten bertemu, berkomunikasi, saling curhat, saling ngeledek, saling traktir.. dan saling saling yang lain. Padahal aku bukan orang yang sulit membina hubungan dengan orang lain, istilah psikologis nya aku cukup extrovert untuk berkawan dengan siapapun. Tetapi kenyataan yang ku alami. Sahabat yang konsisten dalam jalinan persahabatan hanya 1-2 orang. Itupun aku harus pertanyakan lagi, benar benarkah dia menganggapku sebagai sahabat nya juga.
Kalau di seleksi lagi .. akhirnya aku harus mengakui, bahwa saat ini aku tidak punya sahabat yang bisa aku curhati kapanpun aku mau, yang bisa aku ajak shopping diakhir pekan, yang dengan ringan ngajak makan dengan sisyem bss ( bayar sendiri sendiri). Benar benar tragis ya…, aku tidak punya sahabat untuk hal hal yang ingin kubagi dengan seseorang.
Apakah karena aku tidak punya teman ? wah… jauh dari itu, teman ku sekantor ini ada 100 an orang belum lagi mereka yang di factory yg sok kenal dan semua pasti ku akui sebagai temanku, teman di organisasi di luar, teman di lingkungan pengurus RT, teman di lingkungan rumah, teman di pengajian,teman di perkumpulan orang tua murid, teman teman arisan, teman di instransi instansi pemerintah, teman di klub sepeda…, teman teman voulenteer di dunia pendidikan , teman teman sekolah dari SD sd kuliah, teman teman mantan penghuni asrama mahasiswa dr daerah, teman kursus bahasa inggris, teman dari temanku yang ku akui juga sebagai teman karena aku dikenalkan. Dan buanyak…. Teman yang lain
Kenapa ya.. aku tidak punya sahabat , seperti ketika aku masih bersekolah, di setiap tingkatan aku pasti punya sahabat dalam kategori konsisten, tetapi setelah bekerja…. Sahabat sahabat itu melanglang buana…, akupun demikian… sekali sekali hanya say helo lewat sms dan itu tidak bisa dikategorikan “close friend”
Waktu terus berlalu, karier semakin berkembang, ternyata hal itu berbanding terbalik dengan jumlah sahabat yang kumiliki, semakin banyak kolega, semakin banyak relasi , tetapi semakin berkurang yang namanya sahabat.
Apakah karena dalam dunia kerja ini, aku tidak memiliki waktu untuk membina hubungan persahabatan yang bermutu? Bisa jadi itu penyebabnya, Dulu semasa sekolah, kapanpun waktu untuk hang out pasti bisa dilakukan tanpa banyak planning ini dan itu, pulang sekolah, atau disela sela jam kuliah bisa ngumpul bareng, sekedar makan gorengan dengan sohib sohib . Ngga mikir urusan di rumah, ngga mikir panjang terhadap tugas yang belum selesai, pokoknya selalu ada waktu untuk ha ha hi hi dengan mereka rekan se gank’, selalu ada waktu untuk berbagi peristiwa yang dialami oleh masing masing, seremeh dan sekonyol apapun kejadiannya.
Ketika masuk dunia kerja, minimal 8 jam di kantor, dengan posisi kantor yang jauh dari pusat kota dan waktu istirahat yang terbatas , sulit untuk membuat janji sekedar makan siang bersama , karena waktu akan terbuang percuma di jalan.
Akhir minggu, bukan waktu untuk istirahat, tetapi waktu untuk bekerja “rodi” di rumah, apalagi jika sdh punya keluarga, ngejagain anak ( karena pengasuh libur), masak, bersih bersih rumah.. wuih…..manalah sempat untuk telp telp para sahabat untuk ngajak ketemuan di mall, makan di tempat yg asyik, shopping bareng…
Kalaupun bisa, pasti ngga mungkin setiap minggu, paling banter bisanya sebulan atau 2 bulan sekali, itupun kadang gagal, karena ternyata merekapun punya sejuta kesibukan.
Alhasil… sahabat sih tetap sahabat, tetapi kualitas nya jika di ukur dari konsistensi pertemuan dan komunikasi sangatlah jauh menurun dibandingkan jaman sekolah dulu.
Dan kesimpulanku… aku memang tidak punya banyak sahabat saat ini. Kecuali satu orang, itupun jika dia mau mengakui aku sebagai sabahat nya.
Semoga dia mau ., sehingga nasib ku tidak tragis tragis amat. Seperti timnas yang dipecundangi oleh Malaysia di sea games kemarin ! Lho.. ngga nyambung banget sih…!!!!
Kamis, 10 November 2011
Budaya Memberi
Pada idul qurban seminggu yang lalu, terlihat di berbagai tempat orang orang mengantri untuk mendapat jatah hewan qurban. Tak terkecuali di musholla kantor, yang Alhamdulillah tahun ini berhasil menyembelih 3 ekor sapi dari hasil tabungan qurban para karyawan selama setahun. Jika satu sapi merupakan gabungan dari 7 orang karyawan, maka dengan 3 ekor sapi, berarti ada 21 orang karyawan yang berqurban di tahun ini. Subhannallah, jumlah ini meningkat di banding tahun lalu.
Tetapi.. yang lebih meningkat lagi adalah jumlah yang antri untuk mendapat daging qurban.
Walaupun telah di sepakati bahwa daging qurban akan di berikan kepada karyawan di pabrik yang layak menerima dan masyarakat sekitar pabrik yang juga layak menerima, masih banyak karyawan /masyarakat lain yang “kelihatannya” mampu berqurban juga ikut antri untuk mendapat jatah.
Yang lebih antusias lagi adalah jumlah panitia ( entah yang resmi di tunjuk atau yang abal abal) ikut-ikutan mengatur dan membagi, jumlahnya fantastis.
Dan sebagian orang tersebut ( panitia ) dengan perilaku yang sangat kelihatan mementingkan diri sendiri dengan menyembunyikan bagian bagian terbaik dari daging qurban untuk dirinya sendiri. Astagfirullah…
Rupanya , karena merasa panitia, maka berhak untuk mendapat yang terbaik tanpa mempedulikan bahwa bukan lah hak nya untuk mengambil bagian bagian tersebut semaunya. Tetapi itulah yang terjadi.
Bukan budaya memberi dan berqurban yang tertanam di masyarakat ( padahal terlahir sebagai muslim dan bertahun tahun ikut berayakan idul adha). Tetapi justru budaya menerima dan meminta yang menjamur. Bukan akhlak mulia nabi Ibrahim yang menjadi panutan sebagai muslim, tetapi malah merendahkan diri dengan menjadi peminta minta.
Betapa mengenaskan kondisi ini.
Jika saja sebagian besar orang yang mampu memiliki budaya memberi, maka tidak akan terjadi desakan desakan , rebutan dan berbagai perilaku yang memilukan ketika ada pembagian zakat dan qurban, karena jauh lebih banyak yang memberi daripada yang antri untuk menerima.
Jika saja budaya memberi menjadi bagian dari kehidupan kita, maka keharmonisan akan tercipta dengan sendirinya, keberkahan akan diberikan oleh NYA, kebaikan akan menjadi aura kehidupan.
Bukankah tangan di atas adalah lebih baik dari tangan di bawah?
Bukankah Allah telah menjanjikan kepada siapa yang memberi akan diberi lebih banyak lagi oleh NYA…..
semoga lebih banyak lagi yang mendapat petunjuk dan berqurban di tahun depan. amin
Tetapi.. yang lebih meningkat lagi adalah jumlah yang antri untuk mendapat daging qurban.
Walaupun telah di sepakati bahwa daging qurban akan di berikan kepada karyawan di pabrik yang layak menerima dan masyarakat sekitar pabrik yang juga layak menerima, masih banyak karyawan /masyarakat lain yang “kelihatannya” mampu berqurban juga ikut antri untuk mendapat jatah.
Yang lebih antusias lagi adalah jumlah panitia ( entah yang resmi di tunjuk atau yang abal abal) ikut-ikutan mengatur dan membagi, jumlahnya fantastis.
Dan sebagian orang tersebut ( panitia ) dengan perilaku yang sangat kelihatan mementingkan diri sendiri dengan menyembunyikan bagian bagian terbaik dari daging qurban untuk dirinya sendiri. Astagfirullah…
Rupanya , karena merasa panitia, maka berhak untuk mendapat yang terbaik tanpa mempedulikan bahwa bukan lah hak nya untuk mengambil bagian bagian tersebut semaunya. Tetapi itulah yang terjadi.
Bukan budaya memberi dan berqurban yang tertanam di masyarakat ( padahal terlahir sebagai muslim dan bertahun tahun ikut berayakan idul adha). Tetapi justru budaya menerima dan meminta yang menjamur. Bukan akhlak mulia nabi Ibrahim yang menjadi panutan sebagai muslim, tetapi malah merendahkan diri dengan menjadi peminta minta.
Betapa mengenaskan kondisi ini.
Jika saja sebagian besar orang yang mampu memiliki budaya memberi, maka tidak akan terjadi desakan desakan , rebutan dan berbagai perilaku yang memilukan ketika ada pembagian zakat dan qurban, karena jauh lebih banyak yang memberi daripada yang antri untuk menerima.
Jika saja budaya memberi menjadi bagian dari kehidupan kita, maka keharmonisan akan tercipta dengan sendirinya, keberkahan akan diberikan oleh NYA, kebaikan akan menjadi aura kehidupan.
Bukankah tangan di atas adalah lebih baik dari tangan di bawah?
Bukankah Allah telah menjanjikan kepada siapa yang memberi akan diberi lebih banyak lagi oleh NYA…..
semoga lebih banyak lagi yang mendapat petunjuk dan berqurban di tahun depan. amin
Rabu, 09 November 2011
Makna di balik tulisan
Sejak Dahlan Iskan di angkat menjadi Menteri BUMN, setiap artikel ttg beliau selalu menjadikan perasaan saya mengharu biru, bahkan sangat sering sampai meneteskan air mata.
Entah kenapa… seperti juga perasaan saya setiap kali membaca buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Sepuluh kali membaca, sepuluh kali pula saya meneteskan air mata.
Mungkin saya termasuk orang orang dalam kategori “ cengeng”. Gampang tersentuh, gampang terbawa suasana, gampang larut .. sangat sensitif dan banyak penjelasan lain.
Tetapi setelah saya cermati kembali… kenapa hanya membaca artikel di kompas yang berjudul “ Menu Makan siang Pak Menteri “ (Dahlan Iskan) saya bisa bisanya meneteskan air mata, padahal ngga ada sama sekali sedih sedihnya dalam artikel tsb , apa lagi membaca artikel tulisan beliau “ Inikah Kisah Kasih Tak Sampai” atau “ anak miskn yang jadi menteri” wah bisa habis berlembar lembar tissue untuk menghapus air mata.
Atau jika saya membaca novel laskar pelangi yang kesekian kali…., di bab pertama ttg 10 murid baru… itupun sdh membuat perasaan saya mengharu biru dan pasti ujung ujung nya meneteskan air mata.
Rupanya saya tidak membaca hanya sekedar tulisan dalam artikel atau novel tersebut, rupa rupa nya saya membaca Ruh/ jiwa /soul dari tulisan tersebut, itulah yang kemudian menyentuh jiwa dan sisi terdalam dari saya sebagai manusia. Jiwa dalam tulisan tersebut bertemu dengan jiwa murni saya sebagai manusia ( yang sebenarnya di miliki oleh semua umat di dunia). Maka jadilah sentuhan tersebut menyebabkan getaran terdalam dan keluar dalam bentuk perasaan yang mengharu biru , atau dalam kasus saya, sentuhan dan getaran itu menciptakan air mata.
Jadi air mata ini bukan karena kesedihan.. tetapi lebih karena getaran terdalam pada jiwa murni yang dengan jujur membisikkan ada nilai nilai luhur yang tersampaikan melalui artikel atau bacaan tersebut.
Contoh sederhana .. ketika saya membaca artikel Menu makan siang Pak Menteri, di dalam artikel tersebut di tuliskan Pak Dahlan memilih makan siang di kantin BUMN dan membayar sendiri makanan nya. Yang saya tangkap ( jiwa saya tangkap) dari tulisan itu adalah Seorang pejabat yang penuh kesederhanaan, Tidak butuh dilayani, tetapi justru melayani, Tidak arogan karena pangkat dan jabatan serta kekayaan. Benar benar ikhlas dalam berbuat. Ini semua adalah nilai nilai luhur yang tidak terbaca secara jelas di artikel, tetapi mampu di baca oleh jiwa murni saya.
Dalam artikel Anak Miskin yang jadi menteri, yang tertangkap oleh jiwa saya adalah Keuletan dan kerja keras yang luar biasa, keinginan selalu menjadi lebih baik, tidak takut dengan tantangan dan halangan, sekali lagi.. keikhlasan untuk berbuat bagi banyak orang.
Bukan kan itu semua Value yang luar biasa dalam kehidupan kita.
Jadi….dalam kehidupan yang semakin global, ternyata nilai nilai luhur kehidupan semakin tergerus, jiwa kita haus akan sentuhan keluhuran, dan selalu butuh dikuatkan baik oleh kita sendiri , ataupun oleh orang lain yang masih menggenggam erat nilai nilai tersebut.
Melalui Laskar Pelangi,seorang guru di ujung pulau belitong, menguatkan kita, bahwa keikhlasan itu berbuah manis…, melalui Ikal si tokoh utama kita belajar bahwa keterbatasan tidak menjadi kendala untuk sebuah kemajuan dan perubahan ke arah lebih baik. Bahwa bermimpilah menjadi lebih baik… karena Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu. ( mengutip kata-katanya Andrea nih )
Jadi ketika menemukan saya sedang berkaca-kaca di depan sebuah buku atau di depan layar computer atau di depan apapun yg sedang saya baca, maka mintalah saya share yang saya baca, karena pasti memiliki makna yang luar biasa, semoga jiwamu mampu juga menangkap seperti yang jiwaku tangkap.
Entah kenapa… seperti juga perasaan saya setiap kali membaca buku Laskar Pelanginya Andrea Hirata. Sepuluh kali membaca, sepuluh kali pula saya meneteskan air mata.
Mungkin saya termasuk orang orang dalam kategori “ cengeng”. Gampang tersentuh, gampang terbawa suasana, gampang larut .. sangat sensitif dan banyak penjelasan lain.
Tetapi setelah saya cermati kembali… kenapa hanya membaca artikel di kompas yang berjudul “ Menu Makan siang Pak Menteri “ (Dahlan Iskan) saya bisa bisanya meneteskan air mata, padahal ngga ada sama sekali sedih sedihnya dalam artikel tsb , apa lagi membaca artikel tulisan beliau “ Inikah Kisah Kasih Tak Sampai” atau “ anak miskn yang jadi menteri” wah bisa habis berlembar lembar tissue untuk menghapus air mata.
Atau jika saya membaca novel laskar pelangi yang kesekian kali…., di bab pertama ttg 10 murid baru… itupun sdh membuat perasaan saya mengharu biru dan pasti ujung ujung nya meneteskan air mata.
Rupanya saya tidak membaca hanya sekedar tulisan dalam artikel atau novel tersebut, rupa rupa nya saya membaca Ruh/ jiwa /soul dari tulisan tersebut, itulah yang kemudian menyentuh jiwa dan sisi terdalam dari saya sebagai manusia. Jiwa dalam tulisan tersebut bertemu dengan jiwa murni saya sebagai manusia ( yang sebenarnya di miliki oleh semua umat di dunia). Maka jadilah sentuhan tersebut menyebabkan getaran terdalam dan keluar dalam bentuk perasaan yang mengharu biru , atau dalam kasus saya, sentuhan dan getaran itu menciptakan air mata.
Jadi air mata ini bukan karena kesedihan.. tetapi lebih karena getaran terdalam pada jiwa murni yang dengan jujur membisikkan ada nilai nilai luhur yang tersampaikan melalui artikel atau bacaan tersebut.
Contoh sederhana .. ketika saya membaca artikel Menu makan siang Pak Menteri, di dalam artikel tersebut di tuliskan Pak Dahlan memilih makan siang di kantin BUMN dan membayar sendiri makanan nya. Yang saya tangkap ( jiwa saya tangkap) dari tulisan itu adalah Seorang pejabat yang penuh kesederhanaan, Tidak butuh dilayani, tetapi justru melayani, Tidak arogan karena pangkat dan jabatan serta kekayaan. Benar benar ikhlas dalam berbuat. Ini semua adalah nilai nilai luhur yang tidak terbaca secara jelas di artikel, tetapi mampu di baca oleh jiwa murni saya.
Dalam artikel Anak Miskin yang jadi menteri, yang tertangkap oleh jiwa saya adalah Keuletan dan kerja keras yang luar biasa, keinginan selalu menjadi lebih baik, tidak takut dengan tantangan dan halangan, sekali lagi.. keikhlasan untuk berbuat bagi banyak orang.
Bukan kan itu semua Value yang luar biasa dalam kehidupan kita.
Jadi….dalam kehidupan yang semakin global, ternyata nilai nilai luhur kehidupan semakin tergerus, jiwa kita haus akan sentuhan keluhuran, dan selalu butuh dikuatkan baik oleh kita sendiri , ataupun oleh orang lain yang masih menggenggam erat nilai nilai tersebut.
Melalui Laskar Pelangi,seorang guru di ujung pulau belitong, menguatkan kita, bahwa keikhlasan itu berbuah manis…, melalui Ikal si tokoh utama kita belajar bahwa keterbatasan tidak menjadi kendala untuk sebuah kemajuan dan perubahan ke arah lebih baik. Bahwa bermimpilah menjadi lebih baik… karena Tuhan akan memeluk mimpi mimpimu. ( mengutip kata-katanya Andrea nih )
Jadi ketika menemukan saya sedang berkaca-kaca di depan sebuah buku atau di depan layar computer atau di depan apapun yg sedang saya baca, maka mintalah saya share yang saya baca, karena pasti memiliki makna yang luar biasa, semoga jiwamu mampu juga menangkap seperti yang jiwaku tangkap.
Kamis, 29 September 2011
Karunia dan Titipan
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, ( As- Syura 49)
-----------------------------
Ada seorang sahabat yang telah lebih dari 5 tahun menikah,dan sampai saat ini belum dikaruniai buah hati. Ada yang sudah 12 tahun menikah dan pada akhirnya pasrah setelah semua usaha untuk memiliki anak belum membuahkan hasil. Ada yang baru 2 tahun menikah sudah stress karena belum juga memiliki momongan. Ada yang baru 1 bulan menikah dan ternyata bulan berikutnya positif hamil. Ada juga yang baru 6 bulan menikah, tiba tiba kita mendapat kabar bahwa dia telah melahirkan ( mungkin prematur, atau sebab lain, walahualam).
Jika membaca berita kriminalitas di koran, ada saja seorang ibu yang tega membuang bayinya di tong sampah, atau meletakkan di depan pintu panti asuhan, atau di depan masjid, dengan harapan ada yang akan memelihara di bayi. Begitu banyak orang tua yang tidak siap dan tidak sanggup dengan konsekwensi memelihara karunia dan titipan Allah tsb, sehingga menjamurlah klinik klinik ilegal untuk tempat aborsi (Astagfirullah ...)
Jadi sungguh sebuah paradoks, di satu sisi begitu banyak wanita yang menghiba berupaya jungkir balik agar diberi keturunan, Di sisi lainnya, ratusan wanita dengan sengaja berniat meniadakan karunia tersebut dengan berbagai jalan seperti aborsi, membuang bayi yg baru lahir, menitipkan kepada orang lain, dan banyak cara lainnya.
Mengapa bisa terjadi demikian ? Bukan kah seharusnya setiap karunia Allah itu harus di syukuri, bukankah setiap titipan dari Allah itu harus di jaga dengan sebaik-baiknya?
Mungkin.... pada sisi sepasang orang tua ( atau single parent) yang ingin meniadakan keturunan, tidak memiliki pemikiran dan keyakinan bahwa anak adalah Karunia apalagi titipan Allah. Mungkin mereka saat itu terpikir, anak adalah beban, anak adalah aib, anak adalah kesulitan dalam hidup mereka, sehingga menempuh segala cara untuk meniadakan.
Lantas.. bagaimana sebenarnya Allah bekerja/ sistem apa yang dijalankan oleh Allah? jika di satu sisi, mereka yang tidak menginginkan malah di beri, malah di titipi. Disisi lain mereka yang beratus ratus malam menghiba dalam sholat malamnya, atau sudah berupaya dari segala metoda dan segala persyaratan, malah tidak kunjung di beri.
Jawabannya saya yakin ada di banyak surah dan ayat dalam Al-Quran.
Ini salah satunya :
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, ( As- Syura 49)
Dan juga ayat yang mengatakan bahwa : ” apa yang kita sangka baik untuk kita, belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang kita sangka tidak baik bagi kita , belum tentu tidak baik di mata Allah.
Kunci dari hal ini ternyata satu saja, yaitu IKHLAS.
IKHLAS .. berarti menyerahkan segala sesuatunya di tangan Allah
IKHLAS ... berarti tidak sibuk mempertanyakan alasan kepada Allah
IKHLAS.... berarti ikut dan tunduk terhadap semua ketentuan yang sdh digaris kan oleh Allah
IKHLAS...berarti selalu yakin, Allah senantiasa memberi yang terbaik bagi kita apapun bentuknya.
IKHLAS .....berarti yakin tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah.
IKHLAS .... berarti nyaman dengan semua yang sudah ditentukan dan senantiasa ingin menjadi lebih baik di mata Allah.
IKHLAS ....berarti yakin, bahwa anak adalah karunia dan titipan Allah yang hak vetonya ada di tangan Allah.
Sehingga untuk sahabat sahabat saya yang disayang oleh ALLAH, karena nya Allah masih menunda untuk memberi tanggung jawab yang sangat besar dalam memelihara titipan NYA, Ikhlas lah dengan keadaan tersebut, di kiri kanan kita banyak anak yatim yang perlu disantuni, santunilah mereka, semoga Allah melihat keikhlasan kita dan mempercayai kita untuk menerima titipan NYA kelak. Ingatlah...karunia dan titipan ini membawa konsekwensi yang luar biasa besar di sepanjang hidup kita, sampai di hari akhir. Orang tua akan di minta pertanggung jawab olehNYA atas semua karunia dan titipan NYA selama di dunia.
Ikhlas dan yakinlah Allah memberi yang terbaik bagi kita dan justru Allah sangat sayang kepada kita, sehingga kita belum menerima tanggung jawab itu. Mungkin masih ada tanggung jawab kita yang belum kita laksanakan dengan optimal, dan Allah tidak mau membebani kita dengan tanggung jawab yang lebih berat. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban diluar batas kemampuan kita untuk menanggungnya.
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran[1010], dan mereka tidak dianiaya. ( Al-Mu’minun 62)
Subhanallah.
-----------------------------
Ada seorang sahabat yang telah lebih dari 5 tahun menikah,dan sampai saat ini belum dikaruniai buah hati. Ada yang sudah 12 tahun menikah dan pada akhirnya pasrah setelah semua usaha untuk memiliki anak belum membuahkan hasil. Ada yang baru 2 tahun menikah sudah stress karena belum juga memiliki momongan. Ada yang baru 1 bulan menikah dan ternyata bulan berikutnya positif hamil. Ada juga yang baru 6 bulan menikah, tiba tiba kita mendapat kabar bahwa dia telah melahirkan ( mungkin prematur, atau sebab lain, walahualam).
Jika membaca berita kriminalitas di koran, ada saja seorang ibu yang tega membuang bayinya di tong sampah, atau meletakkan di depan pintu panti asuhan, atau di depan masjid, dengan harapan ada yang akan memelihara di bayi. Begitu banyak orang tua yang tidak siap dan tidak sanggup dengan konsekwensi memelihara karunia dan titipan Allah tsb, sehingga menjamurlah klinik klinik ilegal untuk tempat aborsi (Astagfirullah ...)
Jadi sungguh sebuah paradoks, di satu sisi begitu banyak wanita yang menghiba berupaya jungkir balik agar diberi keturunan, Di sisi lainnya, ratusan wanita dengan sengaja berniat meniadakan karunia tersebut dengan berbagai jalan seperti aborsi, membuang bayi yg baru lahir, menitipkan kepada orang lain, dan banyak cara lainnya.
Mengapa bisa terjadi demikian ? Bukan kah seharusnya setiap karunia Allah itu harus di syukuri, bukankah setiap titipan dari Allah itu harus di jaga dengan sebaik-baiknya?
Mungkin.... pada sisi sepasang orang tua ( atau single parent) yang ingin meniadakan keturunan, tidak memiliki pemikiran dan keyakinan bahwa anak adalah Karunia apalagi titipan Allah. Mungkin mereka saat itu terpikir, anak adalah beban, anak adalah aib, anak adalah kesulitan dalam hidup mereka, sehingga menempuh segala cara untuk meniadakan.
Lantas.. bagaimana sebenarnya Allah bekerja/ sistem apa yang dijalankan oleh Allah? jika di satu sisi, mereka yang tidak menginginkan malah di beri, malah di titipi. Disisi lain mereka yang beratus ratus malam menghiba dalam sholat malamnya, atau sudah berupaya dari segala metoda dan segala persyaratan, malah tidak kunjung di beri.
Jawabannya saya yakin ada di banyak surah dan ayat dalam Al-Quran.
Ini salah satunya :
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, ( As- Syura 49)
Dan juga ayat yang mengatakan bahwa : ” apa yang kita sangka baik untuk kita, belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang kita sangka tidak baik bagi kita , belum tentu tidak baik di mata Allah.
Kunci dari hal ini ternyata satu saja, yaitu IKHLAS.
IKHLAS .. berarti menyerahkan segala sesuatunya di tangan Allah
IKHLAS ... berarti tidak sibuk mempertanyakan alasan kepada Allah
IKHLAS.... berarti ikut dan tunduk terhadap semua ketentuan yang sdh digaris kan oleh Allah
IKHLAS...berarti selalu yakin, Allah senantiasa memberi yang terbaik bagi kita apapun bentuknya.
IKHLAS .....berarti yakin tidak ada kekuatan yang melebihi kekuatan Allah.
IKHLAS .... berarti nyaman dengan semua yang sudah ditentukan dan senantiasa ingin menjadi lebih baik di mata Allah.
IKHLAS ....berarti yakin, bahwa anak adalah karunia dan titipan Allah yang hak vetonya ada di tangan Allah.
Sehingga untuk sahabat sahabat saya yang disayang oleh ALLAH, karena nya Allah masih menunda untuk memberi tanggung jawab yang sangat besar dalam memelihara titipan NYA, Ikhlas lah dengan keadaan tersebut, di kiri kanan kita banyak anak yatim yang perlu disantuni, santunilah mereka, semoga Allah melihat keikhlasan kita dan mempercayai kita untuk menerima titipan NYA kelak. Ingatlah...karunia dan titipan ini membawa konsekwensi yang luar biasa besar di sepanjang hidup kita, sampai di hari akhir. Orang tua akan di minta pertanggung jawab olehNYA atas semua karunia dan titipan NYA selama di dunia.
Ikhlas dan yakinlah Allah memberi yang terbaik bagi kita dan justru Allah sangat sayang kepada kita, sehingga kita belum menerima tanggung jawab itu. Mungkin masih ada tanggung jawab kita yang belum kita laksanakan dengan optimal, dan Allah tidak mau membebani kita dengan tanggung jawab yang lebih berat. Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan beban diluar batas kemampuan kita untuk menanggungnya.
Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran[1010], dan mereka tidak dianiaya. ( Al-Mu’minun 62)
Subhanallah.
Selasa, 06 September 2011
Lebaran yang ditunda
Dua minggu sebelum lebaran ,tria sdh berkirim kabar, akan merayakan lebaran pertama di samarinda, ingin mencicipi sholat ied di Masjid Islamic Centre yg merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia.4 hari sebelum lebaran mereka berempat sdh tiba, dan rencananya ingin safari taraweh di beberapa masjid di smd. Senin malam, kami sdh bersiap siap menyambut lebaran , dan dengan seksama mendengarkan sidang isbat ( penentuan 1 syawal)yg di siarkan di TVRI. Hasilnya Lebaran ditetapkan hari Rabu. berarti bukan besok donk' Sedikit kecewa, karena banyak rencana yg sdh disusun, dari mulai sholat ied di IC, silaturahim ke pahlawan,go to balikpapan, sampai menginap di Le Grandeur yang sdh jauh jauh hari di booking. The show must go on, esoknya masing masing punya prinsip , ada yg tetap puasa ( walaupun tanpa sahur) ada yang mencari masjid nya muhammadiyah untuk ikut sholat ied ( tapi ternyata tdk ketemu). ada yang sdh tidak puasa, tapi juga tdk sholat ied.
sesuai rencana kami tetap go to Balikpapan, hmm.. betapa lengangnya sepanjang jalan 110 km menuju Balikpapan, rupa nya orang orang sdg meratapi "kekecewaan" karena lebaran yang di tunda dengan berdiam diri di rumah. hehehe...
Ada juga untungnya lebaran yang ditunda.
sesuai rencana kami tetap go to Balikpapan, hmm.. betapa lengangnya sepanjang jalan 110 km menuju Balikpapan, rupa nya orang orang sdg meratapi "kekecewaan" karena lebaran yang di tunda dengan berdiam diri di rumah. hehehe...
Ada juga untungnya lebaran yang ditunda.
Langganan:
Postingan (Atom)