Senin, 28 November 2011

Sahabat

Kelihatannya sederhana dan mudah saja mendapatkan nya, tetapi fakta nya tidak demikian.

Hari ini , aku baru menyadari betapa sedikitnya sahabat yang ku punya, dalam arti sahabat yang secara konsisten bertemu, berkomunikasi, saling curhat, saling ngeledek, saling traktir.. dan saling saling yang lain. Padahal aku bukan orang yang sulit membina hubungan dengan orang lain, istilah psikologis nya aku cukup extrovert untuk berkawan dengan siapapun. Tetapi kenyataan yang ku alami. Sahabat yang konsisten dalam jalinan persahabatan hanya 1-2 orang. Itupun aku harus pertanyakan lagi, benar benarkah dia menganggapku sebagai sahabat nya juga.

Kalau di seleksi lagi .. akhirnya aku harus mengakui, bahwa saat ini aku tidak punya sahabat yang bisa aku curhati kapanpun aku mau, yang bisa aku ajak shopping diakhir pekan, yang dengan ringan ngajak makan dengan sisyem bss ( bayar sendiri sendiri). Benar benar tragis ya…, aku tidak punya sahabat untuk hal hal yang ingin kubagi dengan seseorang.

Apakah karena aku tidak punya teman ? wah… jauh dari itu, teman ku sekantor ini ada 100 an orang belum lagi mereka yang di factory yg sok kenal dan semua pasti ku akui sebagai temanku, teman di organisasi di luar, teman di lingkungan pengurus RT, teman di lingkungan rumah, teman di pengajian,teman di perkumpulan orang tua murid, teman teman arisan, teman di instransi instansi pemerintah, teman di klub sepeda…, teman teman voulenteer di dunia pendidikan , teman teman sekolah dari SD sd kuliah, teman teman mantan penghuni asrama mahasiswa dr daerah, teman kursus bahasa inggris, teman dari temanku yang ku akui juga sebagai teman karena aku dikenalkan. Dan buanyak…. Teman yang lain

Kenapa ya.. aku tidak punya sahabat , seperti ketika aku masih bersekolah, di setiap tingkatan aku pasti punya sahabat dalam kategori konsisten, tetapi setelah bekerja…. Sahabat sahabat itu melanglang buana…, akupun demikian… sekali sekali hanya say helo lewat sms dan itu tidak bisa dikategorikan “close friend”

Waktu terus berlalu, karier semakin berkembang, ternyata hal itu berbanding terbalik dengan jumlah sahabat yang kumiliki, semakin banyak kolega, semakin banyak relasi , tetapi semakin berkurang yang namanya sahabat.

Apakah karena dalam dunia kerja ini, aku tidak memiliki waktu untuk membina hubungan persahabatan yang bermutu? Bisa jadi itu penyebabnya, Dulu semasa sekolah, kapanpun waktu untuk hang out pasti bisa dilakukan tanpa banyak planning ini dan itu, pulang sekolah, atau disela sela jam kuliah bisa ngumpul bareng, sekedar makan gorengan dengan sohib sohib . Ngga mikir urusan di rumah, ngga mikir panjang terhadap tugas yang belum selesai, pokoknya selalu ada waktu untuk ha ha hi hi dengan mereka rekan se gank’, selalu ada waktu untuk berbagi peristiwa yang dialami oleh masing masing, seremeh dan sekonyol apapun kejadiannya.

Ketika masuk dunia kerja, minimal 8 jam di kantor, dengan posisi kantor yang jauh dari pusat kota dan waktu istirahat yang terbatas , sulit untuk membuat janji sekedar makan siang bersama , karena waktu akan terbuang percuma di jalan.
Akhir minggu, bukan waktu untuk istirahat, tetapi waktu untuk bekerja “rodi” di rumah, apalagi jika sdh punya keluarga, ngejagain anak ( karena pengasuh libur), masak, bersih bersih rumah.. wuih…..manalah sempat untuk telp telp para sahabat untuk ngajak ketemuan di mall, makan di tempat yg asyik, shopping bareng…
Kalaupun bisa, pasti ngga mungkin setiap minggu, paling banter bisanya sebulan atau 2 bulan sekali, itupun kadang gagal, karena ternyata merekapun punya sejuta kesibukan.

Alhasil… sahabat sih tetap sahabat, tetapi kualitas nya jika di ukur dari konsistensi pertemuan dan komunikasi sangatlah jauh menurun dibandingkan jaman sekolah dulu.
Dan kesimpulanku… aku memang tidak punya banyak sahabat saat ini. Kecuali satu orang, itupun jika dia mau mengakui aku sebagai sabahat nya.
Semoga dia mau ., sehingga nasib ku tidak tragis tragis amat. Seperti timnas yang dipecundangi oleh Malaysia di sea games kemarin ! Lho.. ngga nyambung banget sih…!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar